Merti Padukuhan Gegunung “Memetri Gunung Sari”, Lestarikan Tradisi dan Sejarah Leluhur

22 Agustus 2026
RAFIK ANGGAYU MUCHTI
Dibaca 7 Kali
Merti Padukuhan Gegunung “Memetri Gunung Sari”, Lestarikan Tradisi dan Sejarah Leluhur

Sendangsari — Padukuhan Gegunung, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, menggelar Merti Padukuhan bertajuk “Memetri Gunung Sari” pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kegiatan mengusung tagline “Pepeling Sangkan Paraning Dumadi” sebagai pengingat tentang asal-usul dan tujuan kehidupan manusia.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan Makam Gunung Sari pada pukul 07.00–09.00 WIB. Kegiatan gotong royong tersebut diikuti para ahli waris Makam Gunung Sari dari Padukuhan Gegunung, Secang, dan Pereng.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan pada malam harinya dengan doa bersama yang diikuti warga Padukuhan Gegunung bersama seluruh tamu undangan. Acara dihadiri Lurah Sendangsari Suhardi., S.E bersama seluruh pamong Kalurahan Sendangsari, serta jajaran  Forkopimkap Pengasih, yakni Panewu Pengasih Drs. Sunarya, M.M., Kapolsek Pengasih AKP Toha,S.H. dan Danramil Pengasih Kapten Czi Sugiarta.

Sebagai puncak acara Merti Padukuhan Gegunung masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Rusmadi, membawakan lakon “Semar Mbangun Khayangan”. Pelaksanaan pagelaran wayang kulit tersebut mendapatkan Dukungan Pembiayaan oleh Dana Keistimewaan (Danais), sedangkan kebutuhan pembiayaan lainnya dipenuhi melalui swadaya masyarakat Padukuhan Gegunung.

Dukuh Gegunung, Rafik, menyampaikan bahwa Merti Padukuhan diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin setiap awal bulan Mulud dalam kalender Jawa. Selain menjadi sarana silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya merawat warisan leluhur.

Rafik juga menyampaikan bahwa Gunung Sari memiliki sejarah panjang, dimana sebelum menjadi Tempat Pemakaman Umum (TPU), kawasan tersebut dahulu dikenal dengan nama Gunung Maling karena pernah digunakan untuk menguburkan jenazah orang-orang yang tertangkap warga karena melakukan tindak kejahatan. Seiring waktu, nama tersebut berubah menjadi Gunung Sari dan kemudian dimanfaatkan sebagai TPU hingga saat ini.

Pemilihan bulan Mulud juga memiliki makna tersendiri. Bulan Mulud yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum bagi warga untuk melakukan muhasabah dan mengingat perjalanan kehidupan manusia di dunia.

“Kami warga Gegunung mengambil momen kelahiran Nabi sebagai sarana muhasabah, karena setiap kelahiran pasti ada kematian,” ujar Rafik.

Melalui Merti Padukuhan “Memetri Gunung Sari”, masyarakat Gegunung berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga budaya dan sejarah lokal, serta menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. (rfk)

Merti Padukuhan Gegunung “Memetri Gunung Sari”, Lestarikan Tradisi dan Sejarah Leluhur